~*~ Tidak Cukup Sekedar Halal ~*~

Dalam mencari nafkah kita tentu akan berfikir dengan apa kita akan meraihnya. Oleh karena itu ada yang berusaha dengan bekerja menjadi karyawan ada juga yang memilih untuk menjadi pengusaha. Kita berusaha dalam mencari nafkah ini di jalan yang halal karena itu in syaa Alloh menjadi pintu awal keberkahan harta kita.

Namun tidak cukup sekedar halal dalam usaha kita meraih rizki yang telah Alloh swt berikan, lebih dari itu kita juga mesti mampu mengontrol diri dari berbagai penyakit hati yang bisa jadi mengikuti. Ini memang masalah hati dan memang sepertinya hanya diri kita sendiri dan Alloh saja yang tau, termasuk yang mana diri kita ini.
 
Dalam sebuah hadits disebutkan:
"Siapa saja yang mencari dunia demi mendapatkan yang halal, seraya menjaga dari kehinaan, untuk memenuhi nafkah keluarganya atau karena empati kepada tetangganya maka dia akan menemui Alloh swt dan wajahnya bagaikan sinar bulan purnama.
Siapa saja yang mencari dunia untuk mendapatkan yang halal, namun demi suatu kebanggaan, memperbanyak harta dan pamer kekayaan maka dia akan menemui Alloh dan Alloh murka kepadanya". (Hadist ini tercantum dalam al mushannaf karya Ibn Abi Syaibah dari jalur Abu Hurairah)

Dari sini jelas terlihat bahwa sekalipun usaha kita dalam meraih rizki di jalan yang halal namun ketika itu diikuti rasa bangga akan banyaknya harta, suka pamer dengan apa yang dimilikinya serta merendahkan orang lain maka hal ini lah yang menjadikan Alloh swt murka. Terlebih lagi harta yang didapat dari jalan yang haram dan disombongkan. Astaghfirullah

Memang disisi lain kita juga diminta untuk tahadduts bin ni’mat yaitu menyebut nikmat yang diberikan oleh Alloh swt kepada kita sebagaimana dalam Al Qur'an “Adapun terhadap nikmat Rabbmu, hendaklah engkau menyebutnya.”(QS. adh-Dhuha: 11).

Pernah juga aku membaca suatu kisah,dimana Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang berpenampilan jauh dan bertentangan dengan kenikmatan yang diterimanya. Seperti yang dikisahkan oleh Imam Al-Baihaqi bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah saw. dengan berpakaian lusuh dan kumal serta berpenampilan yang membuat sedih orang yang memandangnya. Melihat keadaan demikian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Maka Rasulullah berpesan, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi)

Jadi hendaknya kita mampu menahan diri untuk tidak menilai bahwa seseorang itu sombong, suka pamer dan bangga atas dirinya hanya karena penampilan mereka dengan harta yang dimilikinya atau mereka cerita akan rizky yang baru saja didapatkannya karena sesungguhnya itu masalah hati yang hanya Alloh dan orang itu saja yang tau.

Tahadduts bin ni’mat dengan menampakkan kenikmatan dari Alloh dengan penuh rasa syukur dan niat yang lurus maka itulah yang mestinya dilakukan meski penuh dengan kehati-hatian, bukan justru dilandasi oleh motivasi untuk menunjukkan kekayaan, kehebatan diri dan merendahkan orang lain.

Dan salah satu nikmat ku hari ini adalah alhamdulillah aku menulis lagi. 
Salaam...

Komentar

  1. Jadi inget kalau sekedar kerja, monyet di hutan juga kerja.. :D

    BalasHapus
  2. alhamdulillah bisa baca tulisan mas topics lagi..

    BalasHapus
  3. semoga kita slalu bs mensyukuri nikmat Alloh.. :)

    BalasHapus
  4. ah, subhanallah... bahkan semuanya kembali pada hadist pertama tentang niat, ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga niat kita pun tetap karena Alloh aamiin

      Hapus
  5. namun biasanya kadang risih, jika mereka yang benar-benar niat karena Allah untuk menyebarkannya pada orang lain.. gitu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tipis emang mas bedanya di dalam hati antara tahaddus bin ni'mah dg pamer, soalnya itu urusan hati hehe

      Hapus
    2. karena media komunikasi berbeda, cara komunikasi pun mulai berbeda, akibatnya cara tahaddus bin nikmah mulai berubah juga...

      insyaallah niat karena Allah.. :)

      Hapus
  6. terima kasih sudah diingatkan pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kembali mama cal-vin

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer