~*~ Sampul ~*~

Banyak orang yang menilai seseorang berdasarkan tingkah lakunya apakah mereka bertingkah laku sewajarnya manusia dengan tata krama akhlaq yang masih diembannya ataukah justru bertingkah laku dengan seenak perutnya alias semaunya.

Tak sedikit juga yang menilai seseorang dari penampilannya. Bagi ku itu wajar-wajar saja meski juga ada yang mengatakan jangan hanya melihat buku dari sampulnya tapi lihatlah isinya. Itu juga benar. Namun yang perlu diperhatikan disini orang pada pandangan pertama tentu akan melihat adab dari orang yang ditemuinya dari sikap dan penampilannya bukan dari apa yang ada di dalam isi kepalanya. Begitupun buku cover yang menarik dengan design yang bagus tentu merupakan nilai tersendiri dari sebuah buku meski kita tentu tidak melupakan isi dari buku yang itu sendiri namun kesan yang saat melihat sampul dari buku itu sendiri bisa memberikan kesan tertentu pada orang yang melihatnya.

Memang penampilan rapi tidak menjamin orang itu baik namun setidaknya orang baik tentu akan menjaga penampilannya yang rapi meski sederhana dan tentunya dengan penampilan syar'i. Kalau sedikit-sedikit bilang yang penting hatinya, kita kan ga tau isi hati seseorang? Benar memang kita ga tau isi hati seseorang dan kitapun hanya boleh menilai dari sesuatu yang kasat mata namun bukan berarti kita menyepelekan yang namanya penampilan. Pantaskah kita menilai seorang laki-laki yang berdandan ala perempuan kemudian kita bilang orang itu baik yang penting hatinya sehingga kita tidak berani menyalahkan? Tentu tidak bagaimanapun laki-laki itu tetap salah karena berdandan ala perempuan.

Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata, “Rasulullah SAW mela’nat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki”. (HR. Bukhari)

Sepertinya halnya perempuan yang berpakaian serba hemat ala paket makanan serba saji. Bahkan sampai ada candaan bahwa paha ayam sekarang lebih mahal dari pada paha manusia. Apakah bisa kita katakan jangan melihat buku dari sampulnya yang penting isinya? Jangan melihat orang dari penampilannya yang penting hatinya? Bagiku dalam hal inipun analogi seperti itu kurang tepat. Bagaimana mungkin perempuan yang baik-baik mengenakan penampilan yang amat sangat paket hemat seperti itu.

Bisa kita bayangkan jika ada operasi lalu lintas lalu ada seorang wanita tidak memakai helm kemudian ketika ditilang polisi dia bilang,"Pak polisi jangan tilang saya karena tidak memakai helm yang pentingkan hati saya kan baik, saya juga tidak ugal-ugalan dalam berkendara" Kira-kira apakah polisi itu tidak jadi menilang? Tentu alasan itu tidak diterima karena memakai helm itu tidak ada kaitanya dengan ugal-ugalan ketika berkendara apalagi dikaitkan dengan hati. Aturan memakai helm itu berdiri sendiri tanpa melihat apakah orang itu berkendara dengan sopan ataukah ugal-ugalan. 


Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Terjemahan Al Ahzab: 59)

Komentar

  1. isi lebih penting tapi sampulnya juga harus dijaga ya :) Tanggung jawab suami berat ya karena harus menjaga istri dan anak perempuan supaya terus menutup aurat

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah bener Ma.. tanggung jawab seorang laki-laki baik selaku suami dan ayah itu berat

      Hapus
  2. Sepertinya halnya perempuan yang berpakaian serba hemat ala paket makanan serba saji. << makanan cepat saji iku larang bro, gak enek seng hemat. lak pengen hemat mangan pecel nyang warung e mbok sah. -____-

    BalasHapus
    Balasan
    1. ketoro nakame egos lecep teruss huhuhu....

      Hapus
  3. Bener sob, semoga kita bisa memperhatikan pakaian kita, jangan sampai malah membuat kita menggunung dosa. Semoga saya bisa :)

    BalasHapus
  4. sampule dekil wih, sugih banda... hehhee..
    tapi ya kadang ada yng terlihat keren ternyta penipu :D

    tapi klo muslim yg baik udah pakai pakaian taqwa ya jangan dituduh teroris kan banyakan gtu... jadi belum liat isinya malah dilihat cover terbalik..

    smw tak sama :D

    Khusnudzon saja, yang terpnting jangan terkecoh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampule dekil sugih bondo, tampang ndeso rejeki kuto hehe..

      Hapus
  5. Wah-wah.. artikel da’wahnya bermakna sekali..
    Aku senang sekali dengan artikel yang ada haditsnya, yang ada ayatnya. Sekali-kali, berbagi kemanfaat bagi sesama..
    Subhanallah, salam kenal ya Kang...
    Senang berkunjung ke blog ini, kunjungan perdana lho..
    Karena tulisannya bergizi, aku “Follow” blognya ngga apa apa kan, mas?

    Sahabat sejatimu..hehe
    www.makruf.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mas Agha..

      dengan senang hati

      Hapus
  6. isi memang lebih penting daripada sampul...tapi sampulnya juga penting ya mas, sebagus apapun isi buku kalau tanpa sampul biasanya kurang dilirik ya

    BalasHapus
  7. Meski sampul bukan yang utama, tapi selalu mjd hal Pertama yg dinilai oleh mata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampul yang bagus.. isi yang menawan duh indah rupawan

      Hapus
  8. Idealnya memang luar-dalam memancarkan cahaya kebermanfaatan buat semua orang.

    BalasHapus
  9. betul juga ya kang. Penampilan juga bisa mencerminkan isi hati.

    Ada artikel yang mau dipasang di situsku hp-yitno nggak. Artikel bebas, yang penting bermanfaat. Kayak penulis tamu gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alangkah baiknya jika penampilan dan isi hati selaras

      Hmm.. Penulis tamu yaa coba nanti deh kalau ada hehe

      Hapus
  10. Apapun yang dikenakan setidaknya bisa mencerminkan diri dari si pemakai. Tulisan ini sebagai bukti bahwa masih banyak yang peduli dengan penampilan yang baik, tidak hanya dari segi syariat (jika muslim) akan tetapi juga dari segi kesopanan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penampilan yang baik tidak mesti mahal yang penting sesuai syariah

      Hapus
  11. saya setuju mas, apalagi bagi seorang wanita, penampilannya adalah pintu pertama dalam menilai siapa sebenarnya diri wanita itu....,
    salam dari Kalimantan Selatan :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak, biasanya penampilan itu pintu awal penilaian

      Hapus
  12. Jadi ingat sebuah lagu Mas. "Buka dulu topengmu" he,, he,, he,,, Sulit sekarang membedakan sampul yang murni sama yang tidak murni Kang. Tahu deh..... ha,,, ha,,,h a,,,,,


    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman SMA itu om hehe..

      Iya nih mesti tahu mana yang murni hihi

      Salim

      Hapus
  13. Poko'e sampul sama isi harus sama2 bermutu :D

    BalasHapus
  14. sampul itu bukannya yg di sctv itu?? narji, andika, gading 3 sampul :D

    BalasHapus
  15. Saya suka buah durian. Tapi bila ada orang yang jual buah durian yang sudah dikupas kulitnya lalu dijajakan di pinggir jalan tanpa kulitnya, apalagi dibuka begitu saja, kagaaaak... saya kagak mau, jangankan beli, dikasih pun saya kagak mauuuu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener tadz heuheuheu...

      Hapus
    2. saya juga nggak mau pak Ustadz, karena kita nggak bakalan bisa menebak, apa saja yg sudah mengkontaminasi durian yang telah dikupas kulitnya itu, karena kulit pelindung utamanya sudah dikelupas.....
      keep happy blogging always, salam dari Makassar :-)

      Hapus
    3. iyaa om... janga2 sudah banyak sekali kuman2 yang berkeliaran hehe

      Hapus
  16. Luar dan dalam memang harus dijaga ya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer